Journalist To School

Journalist To School

hunting foto di Jakabaring, Palembang

hunting foto di Jakabaring, Palembang

Sebuah Cerita

Senin, 05 Agustus 2013


Air di danau itu beriak lagi, bergelombang sahut menyaut dengan irama siul burung pipit yang tampak lirih, lagi air itu beriak kali ini oleh tetasan air dari daun pohon disamping kolam itu. Suasananya sunyi, sesunyi citna Lara kepada Marco, air danau itu beriak lagi oleh tetesan air kali ini jatuh dari atas jembatan gantung itu dari pelipis mata Lara, bersiul-siul burung pipit itu lagi menembus sela-sela pohon didekat danau itu. Sepih, damai, namun memiluhkan, sayup-sayup lagu itu terdengar lagi sebuah orkestra lama Beethoven Moonlight sonata, lagu lirih itu sayup-sayup terdengar dari kota  dari sebuah rumah yang dinding rumahnya terbuat dari batu bata yang tersusun rapih, Moonlight sonata terdengar lagi meski sayup namun cukup jelas didengar Lara.

Bibir Lara bergetar pelan, air itu jatuh lagi ke danau beriak membentuk gelombang melingkar yang bersahut beraturan “Lara... maafkan aku, aku terpaksa” seorang pria bertubuh tegap dengan seragam dinas angkatan darat Inggris, suaranya sedih seperti mengisyaratkan sesuatu kepada Lara dan air itu jatuh lagi dari pelipis mata Lara lumayan deras namun tidak mengeluarkan suara yang lirih, hati Lara berlomba dengan logika ada perang besar disana. Lara terlalu muda untuk menanggung hal itu sendiri, ditinggal pergi satu-satunya sosok pria yang tersisa dihidupnya sosok pria yang dia cintai dengan penuh kerendahan hati tanpa meminta lebih, Marco. Pria itu mendekati Lara mencoba untuk lebih dekat agar Lara dapat mengerti keadaannya, Lara menggeser sedikit jauh setelah tangan kekar itu mencoba untuk mendekapnya sepasang matanya yang berair dan bibirnya yang bergetar itu mengisyaratkan Marco untuk tidak mendekatinya.

Suasana diatas jembatan itu membeku, Moonlight sonata terdengar lagi kali ini dengan nada yang sedikit terdengar keras seolah tuts piano ditekan dengan paksa, “maafkan aku Lara, aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini” kata pria itu dengan nada piluh dan kecewa karena tidak menerima jawaban Lara, “aku akan pergi sekarang” kata pria itu lalu membalikkan tubuhnya menuju tepi jembatan. “jangan, jangan pergi... kumohon!” suara Lara terdengar sangat piluh, Marco menghentikan langkahnya namun dia tidak dapat membalikkan badan karena dia tahu dia tidak bisa membatalkan keputusannya itu, bahkan Lara tidak bisa memohon untuk membatalkan keputusan itu, “maaf Lara...” kata pria itu tanpa membalikkan tubuhnya, “kenapa kamu harus melakukan ini kepadaku? Tidakkah kamu tahu kalo aku sedih?” air itu jatuh lagi dipertanyaan terakhir Lara, wajah Lara sangat lesu dan berantakan. Marco berdiri diam diujung jembatan tanpa membalikkan  tubuh, hatinya juga piluh dengan keputusan ini  dia terpaksa dan dia tidak bisa menolak. “jawab pertanyaanku Marko! Kenapa?” tubuh Lara benar-benar kesakitan, batin dihatinya memakan habis tenaga Lara sehingga membuatnya harus menopang tubuhnya sendiri, kepala Marko menundug lesu matanya sedikit berkaca-kaca dia telah mengambil keputusan, satu keputusan yang teramat piluh dan sangat berat untuk dia pilih.

Tubuh Lara gemetaran diatas jembatan itu batinnya benar-benar hancur, bibirnya tidak berhenti gemetaran dan sesekali air mata itu jatuh lagi, Lara memegang perutnya dia merasa mual dia seperti ingin memuntahkan semua masalah ini. Lara ingin bicara dia ingin menyampaikan sesuatu yang sering dia katakan untuk Marco, pelan-pelan dia membuka mulutnya untuk menyampaikan kata-kata itu dengan tenaga yang tersisa “Maafkan aku Lara!” Dor! Suara mesin pembunuh itu memekak dan menggema diantara mereka, sebutir timah panas itu menembus jantung Lara yang disambutnya dengan ucapan terakhir  untuk Marco “apapun yang terbaik untukmu, sayang” kata-kata terakhir Lara itu membawanya pergi dengan rasa perih dengan satu senyuman manis sebelum akhirnya tubuh itu roboh diatas jembatan.
Tangan Marco gemetar dengan hebat, airmatanya jatuh tidak tertahan, wajahnya merah padam. Kali ini Marco benar-benar terpojok dengan keputusannya, tubuhnya lesu, matanya tidak berhenti mengeluarkan airmata. Moonlight sonata masuk perlahan memenuhi tempat itu, nada yang terdengar begitu lirih. Dor! Suara pistol itu terdengar lagi seirama dengan dentingan nada tuts terakhir Moonlight sonata, tubuh Marco jatuh terperosok dijalan itu.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar